Puisi Melangkah
1
“aku mau”
aku masih muda
tak pantas mengabaikan tubuh seperti
ini
meratap pilu
menahan duka, letih dan lesu tak
bertepi
dulu, rasa sombong dan tinggi hati
menguasai batinku
riak sampah lalu lalang tanpa hirauan
membersihkan atau mencemarkan
silih berganti menggoda pasti
jalanku tidak setegap dulu
semangatku redup remang kurang memancar
aku salah tuanku
mengapa kepercayaanku aku sangsikan
sehingga tak kuasa memilah kebenaran
dan keselamatan?
Tuanku yang agung penuh kasih dan
bijaksana
masih sudikah engkau mengulur tangan
merangkul pendosa
aku mau bebas
aku mau sembuh
aku mau sadar
aku mau***
2
"Aku Lihat"Hobiku
berjalan dijalan yang teduh
melempar pandang menatap fokus
aku bukan mikroskop hidup
pengamat aktif menyebar tanya
tatapanku tak pernah kabur
tak peduli gulita terang atau kabut
sekali rona tertangkap pandang
timbulkan harap rayakan hidup
aku memang melihat bintang
dia redup jauh diluar jangkau
aku tahu sinarnya tak pernah padam
menembus kabut melintas badai
tak lekang didera kemarau
tak padam ditengah hujan
kelap kelipnya memberi tanda
bagai mercu suar ditengah kabut
(Mr.Perangin-angin)
melempar pandang menatap fokus
aku bukan mikroskop hidup
pengamat aktif menyebar tanya
tatapanku tak pernah kabur
tak peduli gulita terang atau kabut
sekali rona tertangkap pandang
timbulkan harap rayakan hidup
aku memang melihat bintang
dia redup jauh diluar jangkau
aku tahu sinarnya tak pernah padam
menembus kabut melintas badai
tak lekang didera kemarau
tak padam ditengah hujan
kelap kelipnya memberi tanda
bagai mercu suar ditengah kabut
(Mr.Perangin-angin)
3
Jakarta, 25 agustus 2009
“Terjatuh”
Jantungku sepertinya berhenti berdenyut
Wajahku pucat pasi menahan kelu
Melihatmu tersungkur lemah menahan
sakit
Tuhanku, sesuatu terjadi pada anakku
Ulurkan tanganMu lindungi dia
Tolonglah dia, selamatkan segera
Demikian ujud atensi segenap jiwa
Suara tangis memecah ketegangan
Aku angkat tubuh mungil itu sambil
menanggung salah
Aku sungguh lalai tak sigap menahan
larinya
Di areal yang licin sempit dan tak aman
Kekhawatiranku yang telah lama sudah
terjadi
Suara candanya berubah warna tangis
kesakitan
Kepalanya benjol menahan benturan
Hanya sedetik dapat merubah nasib
Tuhanku. tolong anakku yang masih lemah
ini
Jangan hukum dia karena dia tak
mengerti apa-apa
Setengah jam serasa setahun
Air matanya berderai membasuh wajah
Aku memaki bodoh penyebab bencana
Kenapa pegangan tangannya lepas dari
genggaman?
Dia tak mengerti tentang lantai yang
licin
Ketidakwaspadaannya adalah alami tak
dibuat main
Aku memang mendapat pelajaran
Tapi anakku, semoga Tuhan melindungi
Dan mengusap lukamu***
(Mr.Perangin-angin)
4.
Jakarta, 26 Agustus 2009-08-27
“Diutus”
Benarkah Engkau mengutus aku?
Langkahku saja masih tertatih
Suaraku lemah, lirih tak bertenaga
Menebar jaring menebar kail
Ditengah gelombang badai, ladang yang
tandus
Aku takut tapi Engkau memberi janji
Melintas batas menembus gelap dan
kegelapan
Bawakan sinar penerang hidup
Menawarkan air pelepas dahaga
Mengulurkan tongkat dijalan yang terjal
Aku juga mendambakan dan membutuhkan
mereka
Mungkinkah Engkau telah memilih aku?
RencanaMu melampaui diriku
Menggandeng tanganku menuntun langkah
Penuhkan aku dengan Roh kudusMu
Bawakan kabar kebebasan dan hidup
Menoreh rasa sukacita, cinta dan damai
Kepada orang-orang yang beruntung
Menanggapi tulus kasih karuniaMu
Dalam kejernihan air kehidupan
Dan roti abadi***
(Mr.Perangin-angin)
Komentar
Posting Komentar